Viralindinesia52.com | Tulungagung — Politik memang tak pernah steril dari invtrik, tapi apa jadinya jika media yang seharusnya menjadi penjernih justru ikut bermain dalam kabut persepsi?
Kader Partai NasDem Tulungagung akhirnya angkat suara.
Bukan sekadar kecewa—mereka marah. Cover Tempo edisi 13–16 April 2026 yang menampilkan Surya Paloh dengan narasi merger bersama Partai Gerindra dinilai bukan lagi kritik, melainkan karikatur politik yang dipoles seolah fakta.
Di depan Kantor DPD NasDem Tulungagung, Rabu (15/04/2026), Ketua DPD, Panhis Yody Wirawan, membacakan sikap resmi—yang pada intinya menyatakan: ini bukan jurnalisme, ini framing.
Pokok Keberatan (yang terasa lebih seperti gugatan moral)
Pelecehan sistematis — Bukan sekadar kritik tajam, tapi upaya merendahkan martabat tokoh dan institusi secara terang-terangan.
Framing komersial murahan — Istilah “PT NasDem Indonesia Raya Tbk” terdengar seperti satire gagal yang dipaksakan jadi realitas. Politik direduksi jadi papan saham.
Opini berkedok laporan — Alih-alih menyajikan fakta, narasi yang dibangun justru mengarahkan publik pada asumsi pragmatis yang belum tentu ada.
Pembunuhan karakter halus — Bukan menyerang secara frontal, tapi membentuk persepsi negatif secara perlahan—lebih licin, tapi juga lebih berbahaya.
Minim verifikasi — Tuduhan paling mendasar: di mana konfirmasi? Atau memang fakta sudah tidak lagi penting selama narasi terasa “menjual”?
Tuntutan (yang mencerminkan kegerahan, bukan sekadar formalitas) Keberatan resmi atas pemberitaan yang dinilai tak proporsional.
Permintaan maaf terbuka—bukan setengah hati, bukan basa-basi.
Mendesak Dewan Pers turun tangan, bukan sekadar jadi penonton.
Sanksi tegas, bahkan sampai pada penghentian—karena jika ini dibiarkan, batas etika akan terus digeser.
Proses hukum yang adil, agar publik tahu mana kritik, mana manipulasi.
Catatan yang tak bisa dihindari
Ini bukan sekadar konflik antara partai dan media. Ini adalah cermin retak dari relasi yang seharusnya sehat: pers bebas, tapi tidak liar; politik dikritik, tapi tidak difitnah.
Ketika media mulai merasa kebal dari kewajiban verifikasi, maka yang lahir bukan lagi informasi—melainkan persepsi yang diproduksi massal.
Dan ketika persepsi lebih dipercaya daripada fakta, di situlah demokrasi mulai kehilangan pijakan.
NasDem Tulungagung mungkin sedang marah. Tapi di balik kemarahan itu, ada pertanyaan yang lebih besar:
apakah kita masih punya pers yang mengabarkan kebenaran, atau hanya panggung yang pintar menjual dugaan?
(Ahmad Najiihuddin)


Posting Komentar
0Komentar