TULUNGAGUNG –•| ViralIndonesia52.com
Memasuki satu tahun pemerintahan Kabupaten Tulungagung, suara evaluasi datang dari kalangan mahasiswa. Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (DEMA UIN SATU) menyampaikan pernyataan sikap sebagai bentuk kontrol sosial dan akademik terhadap arah kebijakan daerah.
Ketua DEMA UIN SATU, Roqi Wildana Al Jauhar, menegaskan bahwa satu tahun masa kepemimpinan bukan sekadar seremoni capaian, melainkan momentum refleksi yang harus diukur dengan dampak nyata bagi masyarakat.
“Evaluasi ini bukan untuk menjatuhkan, tetapi memastikan kebijakan daerah benar-benar berpihak pada rakyat,” tegasnya.
MBG dan Kasus Keracunan: Program Mulia, Implementasi Bermasalah?
Salah satu sorotan utama adalah pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diwarnai laporan keracunan di sejumlah sekolah. Mahasiswa menilai persoalan ini tidak bisa dianggap insidental.
Jika program yang menyasar kesehatan peserta didik justru memicu risiko kesehatan, maka ada yang perlu dibenahi secara sistemik—mulai dari pengadaan bahan, proses produksi, distribusi, hingga pengawasan mutu.
DEMA menuntut audit menyeluruh dan transparansi evaluasi agar program tidak sekadar menjadi proyek populis, tetapi benar-benar meningkatkan kualitas gizi anak.
Tol Kediri–Tulungagung: Infrastruktur atau Ketidakpastian?
Isu berikutnya menyasar pembangunan Tol Kediri–Tulungagung yang dinilai mengalami hambatan di beberapa titik. Selain progres fisik yang belum optimal, mahasiswa juga menyoroti persoalan lahan terdampak yang belum sepenuhnya tuntas.
Ketidakjelasan status lahan dan proses ganti rugi berpotensi memicu ketegangan sosial. Infrastruktur memang penting, namun keadilan prosedural dan komunikasi transparan kepada warga tidak boleh diabaikan.
Mahasiswa mempertanyakan: percepatan pembangunan untuk siapa, jika warga terdampak justru masih diliputi ketidakpastian?
Guru PPPK dan Fasilitas Pendidikan: Fondasi yang Belum Kokoh Di sektor pendidikan, DEMA menyoroti belum tuntasnya persoalan guru PPPK. Kepastian status dan kesejahteraan tenaga pendidik dinilai krusial dalam menjaga kualitas pembelajaran.
Selain itu, kondisi sarana dan prasarana sekolah yang belum merata juga menjadi catatan penting. Tanpa fasilitas memadai, visi peningkatan mutu pendidikan hanya akan menjadi slogan.
Mahasiswa menilai pemerintah perlu memastikan bahwa reformasi pendidikan tidak berhenti pada wacana administratif, tetapi menyentuh akar persoalan di lapangan.
Koperasi Desa Merah Putih di Area Sekolah: Perlu Kajian Matang Rencana pengajuan sejumlah sekolah sebagai lokasi Koperasi Desa Merah Putih juga menjadi perhatian. DEMA mengingatkan agar fungsi utama sekolah sebagai ruang pendidikan tidak terganggu aktivitas ekonomi.
Sinergi ekonomi desa memang positif, namun prioritas lembaga pendidikan tetap pada proses belajar-mengajar yang kondusif.
Komitmen Pengawalan Empat Tahun ke Depan
Melalui pernyataan ini, DEMA UIN SATU menegaskan komitmen untuk terus mengawal kebijakan Pemerintah Kabupaten Tulungagung secara kritis dan objektif. Mahasiswa berharap pemerintah membuka ruang dialog yang lebih transparan dan responsif terhadap aspirasi publik.
Satu tahun adalah awal. Pertanyaannya, apakah kritik ini akan dijadikan pijakan perbaikan, atau sekadar catatan yang berlalu tanpa tindak lanjut?
(njih)


Posting Komentar
0Komentar